Tragedi Mahakam

INSIDEN PERISTIWA MAHAKAM SISWA SMU 6 JAKARTA

Aksi pengeroyokan yang dilakukan oleh siswa SMA 6 terhadap wartawan pada hari Senin lalu mengundang kritikan dari masyarakat. Menurut penuturan sejumlah warga, sebenarnya tindakan pemukulan terhadap wartawan bukanlah yang pertama terjadi.
Iksan salah satu pegawai swasta yang telah 10 tahun memilih mahakam sebagai tempat untuk berkumpul dengan teman-temannya mengibaratkan SMA 6 adalah sekolah yang tengah sekarat.
“SMA 6 kan sekolah, sebuah institusi namun tengah sakit parah,” katanya saat berbincang dengan okezone, Rabu (21/9/2011).

Dia menambahkan hal tersebut karena, pihak Guru beserta kepala sekolahnya membiarkan anak didiknya tawuran dan lekat dengan kekerasan, muridnya senang dengan pengeroyokan terhadap wartawan.  “Ini tidak  bisa di biarkan, mau apa negara kita kalau semuanya sudah rusak,” imbuhnya.
Pria satu anak ini juga mengatakan bahwa dirinya tidak sepakat jika kejadian Senin lalu dikatakan sebagai bentrokan. “Itu jelas penganiayaan, itu jelas pengeroyokan kalau perkelahian itu satu-lawan satu. Ini satu lawan dua puluh lima orang,” tegasnya.
Wartawan itu, kata dia, juga manusia bukan hewan, yang kalau di pukulin diam saja. “Ini perlu di tindak tegas, jangan malah di bela oleh pihak kepolisian,” tegasnya.
Dia meminta agar adanya pertanggung jawaban pihak sekolah dan pihak keamanan.”Ini sudah meresahkan, jangan-jangan besok saya juga bisa di keroyok,” tukasnya.

Sementara itu, Andri, warga lainnya, menuturkan, tindakan kekerasan SMA 6 juga pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Dia menceritakan, ketika itu sejumlah oknum Siswa SMA 6 Jakarta  menganiaya petugas keamanan salah satu mall di sekitar lokasi.
Ketika itu, kata Andri, ada copet yang dikejar warga lantas diamankan oleh Satpam Mall. “Sama satpam mau dibawa ke polisi. Tapi satpamnya justru digamparin anak SMA 6 itu,” katanya.

  • Berita ini sampai juga dijejaring social tweeter

Metrotvnews.com, Jakarta: Tidak hanya di dunia nyata, pemukulan dan tindak kekerasan yang dilakukan sejumlah siswa SMA 6 Jakarta terhadap para wartawan hari ini juga terdeteksi di twitter.
Adalah akun @Gilang_Perdanaa yang mengekspresikan perilaku anarkistisnya melalui twitter. “Puas gua mukulin wartawan di jalur sampe bonjok2 emosi bet gua t*i” katanya dalam akun tersebut, Senin (19/9).
Tweet ini langsung diketahui para wartawan dan disebarkan atau di-retweet. Tidak hanya itu foto dari akun tersebut juga langsung menyebar luas.

Namun, setelah ramai dan menyebar akun @Gilang_Perdanaa yang disinyalir sebagai salah satu pelaku dalam pemukulan sejumlah wartawan tiba-tiba saja menghilang, dihapus.(MI/DNI) TEMPO Interaktif, Jakarta – Seorang penulis blog yang mengaku sebagai siswa SMA 6 menuliskan kesaksiannya terkait peristiwa tawuran pelajar sekolah itu dengan beberapa wartawan media, Senin siang, 19 September 2011.pukul 15.54, Senin, 19 September 2011, dengan menggunakan akun @indraswp dengan judul “Sulutan Api di Bumi Mahakam.”
“Saya merupakan siswa SMAN 6 Mahakam kelas XII. Hanya seorang murid biasa, tidak teladan, tidak pintar, bukan anak emas, jauh dari semua itu” tulisnya. “Namun, saya juga bukan sampah yang tidak mengetahui posisi saya.”
Meskipun menyalahkan kedua belah pihak dan mengetahui pekerjaan wartawan dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, penulis mempertanyakan hak siswa untuk mengenyam pendidikan secara nyaman.
Dalam tulisan yang disebut sebagai opini berdasarkan kesaksiannya sendiri dan dari berbagai sumber tersebut, penulis menceritakan kronologis insiden kemarin yang diawali dengan kejadian tawuran siswa SMAN 6 Mahakam dengan siswa SMAN 70 Bulungan, Jumat lalu

Ia mengatakan teman-temannya tersulut emosi saat wartawan ingin mengambil gambar SMAN 6 Mahakam dan akhirnya merampas kaset wartawan tersebut. “Beberapa murid yang merasa terancam tersulut emosinya dan merampas kaset dari wartawan tersebut,” tulisnya.
Senin pagi, para wartawan kembali datang untuk meminta pertanggungjawaban Kepala Sekolah SMA 6. “Pagi ini para wartawan datang untuk meminta pertanggungjawaban dari Kepala Sekolah. Menurut beberapa guru SMAN 6 Mahakam, wartawan tersebut sudah bertemu dengan Ibu Kadarwati selaku Kepala Sekolah sebanyak tiga kali.”
Namun, setelah itu, tulisnya, terjadi kericuhan kecil, yang diikuti beberapa kericuhan lainnya. Ujungnya, setelah berbagai kejadian yang menyulut emosi kedua pihak, terjadilah tawuran siswa dan wartawan itu.
Di akhir tulisan, penulis mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap profesi wartawan. “Dengan mudahnya penghormatan saya terhadap wartawan hilang. Saya kuburkan dalam-dalam fakta bahwa saya pernah ingin menjadi seorang wartawan. Bagai noda mereka terbuang,” tulisnya.

  • Pemicu bentrok siswa smu 6 dan wartawan

JAKARTA, KOMPAS.com – Bentrok antara wartawan dan pelajar SMA Negeri 6 di Jalan Mahakam, Jakarta Selatan, Senin (19/9/2011), dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan kedua belah pihak. Para siswa menilai wartawan bertindak tanpa etika.

Siswi kelas XII SMAN 6 Mahakam, Indraswari Pangestu, menuturkan latar belakang kemarahan siswa-siswi SMAN 6 terhadap wartawan yang melakukan aksi damai di sekolah tersebut pada Senin pagi tadi. Ia mengatakan, bentrok itu terjadi karena siswa tak senang melihat seorang yang memanjat gedung sekolah.

Woi, ngapain lo di sana!” kata Indraswari yang ditulisnya dalam blognya. Mendengar hal itu, kata Indraswari, para guru dan polisi pun meminta agar wartawan tersebut turun dari atas bangunan.

  • Kesimpulan dan pendapat saya dari masalah tersebut

seharusnya tindakan ini tidak pantas dilakukan oleh seorang siswa SMA , karena bagaimanapun juga , siswa harus nya menghormati wartawan , karena wartawan juga seorang manusia dan usia nya juga lebih besar dari seorang siswa , sebenarnya ini hanya kesalahpahaman yang berujung pertikaian antara siswa dan wartawan tersebut . dan seharus nya sekolah juga bertanggung jawab atas masalah ini , bukan malah angkat tangan , dan berkomentar , “ itu kan terjadi di luar sekolah , jadi , sekolah tidak bertanggung jawab atas masalah tersebut” , bukan begitu cara nya , bagaimana juga , siswa tersebut didikan dr sekolah tersebut, jadi masalah yang terjadi di dalam dan diluar merupakan tanggung jawab sekolah juga , dan kedepan nya siswa-siswi harus di tegaskan agar bisa tidak main keroyok ,dan selesaikan masalah dengan cara musyawarah , agar tidak menejelekkan nama baik sekolah dan siapapun .

  • Daftar pustaka

Kompas.com

Metrotvnews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s