sektor pertanian

Sektor pertanian

Pendahuluan

Berdasarkan pertimbangan ini, maka sektor pertanian menjadi sektor penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Seiring dengan berkembangnya perekonomian bangsa, maka kita mulai mencanangkan masa depan Indonesia menuju era industrialisasi, dengan pertimbangan sektor pertanian kita juga semakin kuat.
Seiring dengan transisi (transformasi) struktural ini sekarang kita menghadapi berbagai permasalahan. Di sektor pertanian kita mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah produksi pangan, terutama di wilayah tradisional pertanian di Jawa dan luar Jawa. Hal ini karena semakin terbatasnya lahan yang dapat dipakai untuk bertani. Perkembangan penduduk yang semakin besar membuat kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan berbagai sarana pendukung kehidupan masyarakat juga bertambah. Perkembangan industri juga membuat pertanian beririgasi teknis semakin berkurang.

Selain berkurangya lahan beririgasi teknis, tingkat produktivitas pertanian per hektare juga relatif stagnan. Salah satu penyebab dari produktivitas ini adalah karena pasokan air yang mengairi lahan pertanian juga berkurang. Banyak waduk dan embung serta saluran irigasi yang ada perlu diperbaiki. Hutan-hutan tropis yang kita miliki juga semakin berkurang, ditambah lagi dengan siklus cuaca El Nino-La Nina karena pengaruh pemanasan global semakin mengurangi pasokan air yang dialirkan dari pegunungan ke lahan pertanian.

Sesuai dengan permasalahan aktual yang kita hadapi masa kini, kita akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri. Di kemudian hari kita mungkin saja akan semakin bergantung dengan impor pangan dari luar negeri. Impor memang dapat menjadi alternatif solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan kita, terutama karena semakin murahnya produk pertanian, seperti beras yang diproduksi oleh Vietnam dan Thailand. Namun, kita juga perlu mencermati bagaimana arah ke depan struktur perekonomian Indonesia, dan bagaimana struktur tenaga kerja yang akan terbentuk berdasarkan arah masa depan struktur perekonomian Indonesia.

Struktur tenaga kerja kita sekarang masih didominasi oleh sektor pertanian sekitar 42,76 persen (BPS 2009), selanjutnya sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 20.05 persen, dan industri pengolahan 12,29 persen. Pertumbuhan tenaga kerja dari 1998 sampai 2008 untuk sektor pertanian 0.29 persen, perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,36 persen, dan industri pengolahan 1,6 persen.

Sedangkan pertumbuhan besar untuk tenaga kerja ada di sektor keuangan, asuransi, perumahan dan jasa sebesar 3,62 persen, sektor kemasyarakatan, sosial dan jasa pribadi 2,88 persen dan konstruksi 2,74 persen. Berdasarkan data ini, sektor pertanian memang hanya memiliki pertumbuhan yang kecil, namun jumlah orang yang bekerja di sektor itu masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan sektor keuangan, asuransi, perumahan dan jasa yang pertumbuhannya paling tinggi.

Data ini juga menunjukkan peran penting dari sektor pertanian sebagai sektor tempat mayoritas tenaga kerja Indonesia memperoleh penghasilan untuk hidup. Sesuai dengan permasalahan di sektor pertanian yang sudah disampaikan di atas, maka kita mempunyai dua strategi yang dapat dilaksanakan untuk pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia di masa depan.

Strategi pertama adalah melakukan revitalisasi berbagai sarana pendukung sektor pertanian, dan pembukaan lahan baru sebagai tempat yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia. Keberpihakan bagi sektor pertanian, seperti ketersediaan pupuk dan sumber daya yang memberikan konsultasi bagi petani dalam meningkatkan produktivitasnya, perlu dioptimalkan kinerjanya. Keberpihakan ini adalah insentif bagi petani untuk tetap mempertahankan usahanya dalam pertanian. Karena tanpa keberpihakan ini akan semakin banyak tenaga kerja dan lahan yang akan beralih ke sektor-sektor lain yang insentifnya lebih menarik.

Strategi kedua adalah dengan mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung bagi sektor lain yang akan menyerap pertumbuhan tenaga kerja Indonesia. Sektor ini juga merupakan sektor yang jumlah tenaga kerjanya banyak, yaitu sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta industri pengolahan. Sarana pendukung seperti jalan, pelabuhan, listrik adalah sarana utama yang dapat mengakselerasi pertumbuhan di sektor ini.

Struktur perekonomian Indonesia sekarang adalah refleksi dari arah perekonomian yang dilakukan di masa lalu. Era orde baru dan era reformasi juga telah menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor penting yang membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Sektor pertanian juga menyediakan pangan bagi masyarakat Indonesia.

Saat ini kita mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan kebijakan yang dapat membentuk struktur perekonomian Indonesia di masa depan. Namun, beberapa permasalahan yang dihadapi sektor pertanian di masa ini perlu segera dibenahi, sehingga kita dapat meneruskan hasil dari kebijakan perekonomian Indonesia yang sudah dibangun puluhan tahun lalu, dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia sampai saat sekarang ini.

Pembahasan

  • Kontribusi produk

Laju penurunan peran sektor pertanian secara relatif di dalam ekonomi cenderung berasosiasi dengan kombinasi dari tiga hal berikut. Pangsa PDB awal dari sektor-sektor non pertanian yang relatif lebih tinggi dari pada pangsa PDB awal dari pertanian, laju pertumbuhan output pertanian yang relatif rendah , dan laju pertumbuhan output dari sektor-sektor nonpertanian yang relatif tinggi.

Didalam sistem ekonomi terbuka , besar nya kontribusi produk terhadap PDB dari sektor pertanian baik lewat pasar maupun lewat keterkaitan produksi dengan sektor-sektor non pertanian. Misalnya industry manufaktur, juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan sektor itu sendiri dalam menghadapi persaingan dari luar. Dari sisi pasar, kasus Indonesia menunjukkan bahwa pasar domestik didominasi oleh berbagai produk pertanian dari luar negeri, mulai dari beras,buah-buahan,sayuran hingga daging.dari sisi keterkaitan produksi, kasus Indonesia  kayu dan rotan sering mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku di dalam negeri karena komoditi-komoditi tersebut diekspor dengan harga jual dipasar luar negeri jauh lebih mahal dari pada dijual ke industri-industri tersebut.

  • Kontribusi pasar

Negara agraris dengan proporsi populasi pertanian yang besar seperti Indonesia merupakan sumber sangat penting bagi pertumbuhan pasar domestik produk-produk dari sektor-sektor nonpertanian, khusus nya industri manufaktur. Pengeluaran petani untuk produk-produk industri, baik barang konsumer (makanan , pakaian , atau bahan-bahan bangunan, transportasi, mebel, dan peralatan rumah tangga lainnya), maupun barang-barang perantara untuk kegiatan produksi (pupuk, pestisida, alat-alat pertanian) memperlihatkan satu aspek dari kontribusi pasar dari sektor pertanian terhadap pembangunan ekonomi lewat efek nya terhadap pertumbuhan dan diversifikasi sektoral.

Tentu, peranan sektor pertanian lewat kontribusi pasarnya terhadap diversifikasi dan pertumbuhan output sektor-sektor nonpertanian seperti yang dijelaskan diatas sangat tergantung pada dua faktor penting yang dapat dianggap prasyarat. Pertama , dampak dari keterbukaan ekonomi dimana pasar domestik tidak hanya diisi oleh barang-barang buatan dalam negeri, tetapi juga barang-barang impor. Didalam sistem ekonomi tertutup, kebutuhan petani akan barang-barang nonmakanan mau tidak mau harus dipenuhi oleh industri didalam negeri.

Kedua, jenis teknologi yang digunakan di sektor pertanian yang menentukan tinggi rendahnya tingkat mekanisasi atau modernisasi di sektor tersebut. Permintaan terhadap barang-barang produsen buatan industri dari kegiatan-kegiatan pertanian tradisional lebih kecil (Baik dalam jumlah maupun komposisinya menurut jenis barang) dibandingkan permintaan dari sektor pertanian yang sudah modern.

  • Kontribusi faktor-faktor produksi

Ada dua faktor yang dapat dialihkan dari pertanian ke sektor-sektor non pertanian, tanpa harus mengurangi volume produksi (produktivitas) di sektor pertama. Pertama, L: di dalam teori Arthur Lewis dikatakan bahwa pada saat pertanian mengalami surplus L (dimana MP dari penambahan satu L mendekati atau sama dengan nol) yang menyebabkan tingkat produktivitas dan pendapatan riil per L disektor tersebut rendah, akan terjadi transfer L dari pertanian ke industri. Sebagai dampak nya, kapasitas dan volume di produksi di sektor industri meningkat.

Fenomena ini muncul sebagian karena konsumsi komoditi pertanian dari petani telah mencapaitingkat optimumdan sebagian lagi karena suatu kenaikan di dalam permintaan terhadap barang-barang industri dari petani, yang pada gilirannya meningkatkan permintaan  uang .sangat jelas bahwa suatu kebijakan harga untuk pertanian positif(yang mengakibatkan suatu peningkatan relatif dari harga dari barang-barang pertanian vis a vas harga dari barang-barang industri) dan atau kenaikan output atau dua-duanya akan membuat suatu kenaikan pendapatan petani.sebagian dari kenaikan pendapatan tersebut akan digunakan untuk pengeluaran konsumsi, sisanya merupakan tabungan.

  • Kontribusi Devisa

Kontribusi sektor pertanian terhadap peningkatan devisa adalah lewat peningkatan ekspor (X) dan /atau pengurangan tingkat ketergantungan Negara tersebut terhadap impor (M) atas komoditi-komoditi pertanian.tentu, kontribusi sektor itu terhadap X juga bersifat tidak langsung, misalnya lewat peningkatan X atau pengurangan M produk-produk berbasis pertanian seperti makanan dan minuman, tekstil, dan produk-produknya, barang-barang dari kulit, ban mobil,obat-obatan, dan lain-lain.

Akan tetapi peran sektor pertanian dalam peningkatan devisa bisa kontradiksi dengan perannya dalam bentuk kontribusi produk, seperti telah dibahas sebelumnya, kontribusi produk dari sektor pertanian terhadap pasar dan industri domestik bisa tidak besar karena sebagian besar produk pertanian diekspor dan atau sebagian besar kebutuhan pasar dan industri domestik disuplai oleh produk-produk impor. Dalam kata lain , usaha peningkatan X pertanian bisa berakibat negatif terhadap pasokan pasar dalam negeri , atau sebaliknya usaha memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri bisa menjadi suatu faktor penghambat bagi pertumbuhan X pertanian.

 

B. KINERJA DAN PERAN SEKTOR PERTANIAN DI INDONESIA

1. Pertumbuhan output sejak tahun 1970-an

Mungkin sudah merupakan suatu evolusi alamiah seiring dengan proses industriliazation , dimana pangsa output agregat (PDB) dari pertanian relatif menurun sedangkan dari industri manufaktur dan sektor-sektor sekunder lainnya dan sektor tersier meningkat. Penurunan kontribusi output dari pertanian terhadap pembentukan PDB ini bukan berarti bahwa volume produksi di sektor tersebut berkurang (pertumbuhan negatif) selama periode tersebut, tetapilaju pertumbuhan outputnya lebih lambat dibandingkan laju pertumbuhan output di sektor-sektor lain. Hal ini bisa terjadi karena secara rata-rata , elastisitas pendapatan dari permintaan terhadap komoditas pertanian lebih kecil daripada elastisitas pendapatan dan permintaan terhadap produk-produk dari sektor-sektor lain seperti barang-barang industri . jadi, dengan peningkatan pendapatan, laju pertumbuhan permintaan terhadap komoditas pertanian lebih kecil daripada terhadap barang-barang industri.

2. pertumbuhan dan diversifikasi ekspor

Komoditas pertanian Indonesia yang diekspor cukup bervariasi mulai dari getah karet, kopi, udang, rempah-rempah, mutiara, hingga berbagai macam sayur dan buah. Selama 1993-2001, nilai X total dari komditas-komoditas ini rata-rata pertahun hamper mencapai 3 miliar dollar AS. Diantara komoditi-komditi tersebut, yang paling besar nilai ekspor nya adalah udang dengan rata-rata sedikit diatas 1 miliar dolar AS selama periode yang sama. Udang memang merupakan komoditas perikanan terpenting dalam X hasil perikanan Indonesia. Selain itu, Indonesia juga mengekspor hasil perikanan bukan bahan makanan seperti rumput laut, mutiara, dan ikan hias.

Semakin tinggi tingkat pembangunan ekonomi (yang terefleksi dengan semakin tingginya pendapatan per kapita), semakin penting peran tidak langsung dari sektor pertanian,yakni sebagai pemasok bahan baku bagi sektor industri manufaktur dan sektor-sektor ekonomi lainnya.

 

3. kontribusi terhadap kesempatan kerja

Sudah diduga bahwa disuatu Negara agraris besar seperti Indonesia, dimana ekonomi dalam negerinya masih di dominasi oleh ekonomi pedesaan, sebagian besar dari jumlah angkatan/tenaga kerja (L) bekerja di pertanian.sebagai suatu perbandingan,pada tahun yang sama industri manufaktur hanya mengerjakan sekitar 6 juta orang lebih atau pangsa nya dalam total kesempatan kerja hanya sekitar 10%. Pada tahun 2000, jumlah orang yang bekerja di pertanian bertambah menjadi 40,7 juta orang lebih, namun masih lebih kecil dibandingkan jumlah pekerja di sektor tersebut pada awal tahun 1990-an, yakni sekitar 41 juta orang.

Kalau dilihat dari pola perubahan kesempatan kerja di pertanian dan industri manufaktur selama periode tersebut, pangsa kesempatan kerja dari sektor pertama menunjukkan suatu tren pertumbuhan yang menurun, sedangkan di sektor kedua meningkat.perubahan struktur kesempatan kerja ini sesuai dengan apa yang di prediksi oleh teori mengenai perubahan struktur ekonomi yang terjadi dalam suatu proses pembangunan ekonomi jangka panjang.

Kesimpulan

Kesimpulan Sektor pertanian merupakan salah satu sektor perekonomian yang sangat berperan, mengingat kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) baik secara nasional maupun regional cukup tinggi. Keberhasilan sektor pertanian itu sendiri sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia. Selain itu, keberhasilan sektor pertanian juga tidak bisa lepas dari kualitas, kuantitas dan kontinyuitas sumber daya alam yang mendukung dan melimpah, seperti air, tanah, dan hutan. Sumber daya alam itu sendiri merupakan segala sesuatu yang berada di bawah maupun diatas bumi yang sifatnya masih potensial dan belum dilibatkan dalam proses produksi. Namun apalah jua jika sumber daya alam yang berlimpah tetapi tidak ada keterkaitan fundamental dan pengelolaan kebijakan yang baik.untuk megarahkan ke depan dalam kesungguhan prospek .Peningkatan pendidikan dalam hal ini sungguhlah amat penting untuk mengatasi kekurangan pembalutan pemikiran .generasi muda memang dituntut saat ini,karena dalam pandangnnya mereka itu masih mempunyai ide-ide kreatif yang nantinya akan membangun bangsa dengan hasilnya itu.Rekomendasi Dapat kita ambil jejak dari semua persoalan ini dan rangkum dalam kesesuaian rekomendasi.

a. Pemerintah harus berperan aktif dalam mengatasi menurunnya minat generasi muda perihal mengelola pertanian.

b. Penyesuaian lapangan pekerjaan yang khusus perihal prospek yang didapatkan setelah menguasai pandangan intern terhadap pertanian

c. Memacu generasi muda agar sadar bahwasannya sektor pertanian ini adalah salah satu buday leluhur yang harus diperjuangkan,karena keberdaann ya dapat mengembangkan segala aspek.

Daftar pustaka

http://metrotvnews.com/metromain/analisdetail/2010/06/09/23/Sektor-Pertanian-dan-Struktur-Perekonomian-Indonesia

http://andriekayani24.blogspot.com/2010/03/makalah-ilmu-budaya-dasar-aktivitas.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s